24 Agustus 2006

Bila Diri Sempit Hati

 “Setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan; kalau yang kita miliki itu kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata mulia.”Sahabat, alangkah menderitanya orang-orang yang sempit hati. Hari-harinya menjadi tidak nyaman, pikirannya menjadi keruh, dan penuh rencana buruk. Waktu demi waktu yang dilaluinya sering kali diisi kondisi hati yang mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian, bahkan dendam kesumat.

Dia pun akan mudah tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak ada kata maaf. Hatinya baru terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya menderita, sengsara, atau tidak berdaya. Karena itu, tak heran bila menjelang tidur, otaknya berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan rasa dendam yang ada di lubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan pada orang yang dibencinya.
Ingatlah bahwa hidup di dunia ini hanya satu kali. Hanya sebentar, belum tentu panjang umur. Amat rugi kalau kita tidak bisa menjaga suasana hati. Saudaraku, kekayaan yang sangat mahal dalam hidup ini adalah suasana hati. Walau rumah kita sempit, tapi hati kita lapang, maka akan terasa lapang pula hidup kita. Walau tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita sehat, maka hidup akan lebih tenang. Walau badan kita lemas, tapi kalau hati tegar, maka jiwa kita insya Allah akan terasa lebih mantap.
Lalu, bagaimana caranya agar kita berhati lapang dan mampu mengatasi perasaan-perasaan yang sempit itu? Pertama, kita harus mengondisikan hati agar selalu siap untuk dikecewakan. Hidup ini tidak akan selamanya sesuai dengan keinginan. Artinya, kita harus siap dengan situasi dan kondisi apapun. Kita jangan hanya siap dengan kondisi enak saja. Kita harus siap dengan kondisi yang paling pahit dan sulit sekalipun. Benarlah bila pepatah mengatakan: ‘Sedia payung sebelum hujan’. Artinya, hujan atau tidak hujan kita harus selalu siap.
Kedua, kalau toh ada yang mengecewakan, maka jangan terlalu dipikirkan. Mengapa? Kita akan rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja, karena yang memberi dan membagikan rezeki hanyalah Allah semata; juga yang mengangkat derajat dan menghinakan manusia juga hanya Allah. Apa perlunya kita pusing dengan omongan orang? Apalagi kalau kita tidak salah dan berada di jalan yang benar. Biar pun orang tersebut kelelahan menghina kita, sungguh tidak akan berkurang sedikit pun pemberian Allah kepada kita. Kita tidak akan hina dengan cemoohan orang. Kita hanya akan hina dengan perilaku kita sendiri.
Rasulullah SAW dihina, tetapi ia tetap cemerlang bagaikan intan berlian, sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal, sengsara. Demikian juga Salman Rusdhie yang terus dilanda ketakuan dan tak bisa ke mana-mana. Siapa yang menabur angin, maka ia akan menuai badai. Ada kisah menarik. Suatu ketika Nabi Isa AS dihina, tapi ia tetap tersenyum, tenang, dan mantap. Tidak sedikit pun beliau menjawab dengan kata-kata kotor dan tajam seperti dilontarkan orang yang menghina tersebut.
Saat ditanya oleh sahabatnya, “Wahai Nabi, kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah engkau membalasnya dengan kebaikan?” Nabi Isa AS menjawab, “Setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan; kalau yang kita miliki itu kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata mulia”.
Sungguh seseorang akan menafkahkan apa-apa yang dimilikinya. Suatu ketika seorang saleh bernama Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke kampungnya dengan kata-kata: “Hai kamu bodoh, gila, kurang ajar”. Namun, Ahnaf bin Qais malah menjawab, “Sudahkah? Apakah masih ada hal lain yang akan disampaikan? Sebentar lagi saya masuk ke kampung. Kalau nanti didengar orang-orang sekampung, mungkin nanti mereka akan mengeroyokmu. Ayo, kalau masih ada yang disampikan, sampaikanlah sekarang!”
Saudaraku percayalah, semakin mudah kita tersinggung, apalagi hanya karena hal-hal sepele, maka akan semakin sengsara pula hidup ini. Apakah kita akan memilih hidup sengsara? Tentu tidak bukan? Justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal. Bagaimana bisa begitu? Kalau kita tidak ada yang menghina atau menyakiti, kapan kita mau memaafkan? Yang pasti, semakin kita berjiwa pemaaf, maka hati kita akan semakin lapang; semakin bisa memahami orang lain; dan hidup kita akan semakin aman dan tentram. Wallahu a’lam bish-shawab.
n ( KH Abdullah Gymnastiar )

26 Mei 2006

Rindu ini

 Salah satu ciri seorang yang beriman adalah ketika disebut nama Allah

maka bergetarlah hatinya.
Bergetar kerana takut akan azab-Nya,
Bergetar kerana mengharap Ridho-Nya,
Dan bergetar kerana rindu ingin berjumpa dengan-Nya.

Seseorang apabila nama yang dikasihi disebut didepannya,
dan ia tidak merasakan getaran, maka dipertanyakan kecintaan dan
kerinduannya,
maka Allah menggambarkan dalam firman-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang
merindui-Nya: “… dan
apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya.” (QS. Al-Anfal :2).

Bayangkan …hanya dengan disebut nama-Nya maka bergetar hatinya…

Bagaimana dengan hati ini?
Cintakah kita dengan-Nya?
Rindukah kita dengan-Nya?

Dalam hadist Qudsi Allah berfirman “Sesungguhnya Aku sesuai dengan
prasangka hambaKu”

Bila hati ini rindu kepada-Nya ,maka ia akan rindu ,Bila hati ini ingin
berjumpa dengan-Nya ,
maka Ia akan mengharapkan berjumpa,
Subhanallah, bahagia orang yang merasakan getaran ketika nama Allah
disebut.

Jangan katakan kita cinta Rasul, kalau hati tidak bergetar ketika
mendengar nama Rasul.
Jangan katakan kita merindukan Rasul kalau hati tak bergejolak ketika
nama Rasul disebut.

Begitu juga ketika seseorang merindui seseorang yang dikasihi, ingin
hati berjumpa, mendengar dan bicara dengannya.
Walaupun satu kata yang terlontar dari orang yang dirindui,
Itu akan mengubati rasa rindu.

Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan rasa rindu,
Setiap orang mempunyai rasa rindu,
seorang lelaki rindu seorang isteri solehah,
seorang wanita rindu seorang suami soleh,
seorang yang beriman rindu akan kebenaran,
seorang yang bertakwa rindu berjumpa dengan Allah.
Ya Rabb, syukur aku telah kau anugerahkan dengan rindu.
Ya Rabb, jawablah rindu ini.
Ya Rabb, kumpulkan aku bersama orang yang merinduiMu…

(Amin)

Rindu ini

 Rindu ini…

Dalam kebekuan hati yang lelah mencari
setitik arti cinta tuk mengisi hari
setitik arti rindu tuk menjalin mimpi
dengan langah tertahan ku ingin temukan
nuansa indah kerinduan tuk abadikan kenangan

dan kurajut benang mimpi
dalam getar dawai hati
saat diri bersimpuh pasrah
saat hati mengiba resah
karena dosa yang terbuat
karena nista diri yang tak tertutupi
dalam tatap-Mu
tertunduk aku dalam malu dan harapku

sesaat ku terpaku dalam heningku..
menanti jawab akan pintaku
dengan bahasa kasih-Mu
kutemukan damai bersama-Mu
kutemukan jawab atas pinta-Ku

dalam kesunyian malam
kau belai aku akan nikmat
tenggelamkan diri dalam asa
tuk gapai cinta-Mu yang abadi

O, Robbi…
Bilakah rindu ini berlabuh di pantai kasih-Mu
bilakah cinta ini singgah di lautan rahmat-Mu
andai tiada malu hati
andai tiada resah diri
ingin ku berjumpa dengan-Mu
ingin tumpahkan sgala kerinduanku
NAMUN..ku tahu
aku tak pantas untuk itu

Robbi
rengkuh aku dalam ridho-mu
raih aku dalam indah kasih-Mu
peluk aku dalam cinta-Mu

09 Mei 2006

Yang Aku Takutkan Terjadi

Kumpulan orang langit itu sudah mengingatkan,

Kalian hanya perlu berlayar saja di atasnya dengan perahu kalian..!

Jangan masuk ke lautan karena di dalamnya banyak hewan ganas dan beracun.
Tapi engkau malah mengambil tali dan mengikatkannya di tubuh kalian
Lalu kalian melompat ke sana tanpa bisa kami cegah dan entah apa maksud
kalian

Yang aku takutkan terjadilah
Mereka berubah menjadi makhluk yang aneh
Leher mereka menjadi lebih panjang seperti ular, lidahnya bercabang dua dan
giginya bertaring
Bahkan dari bahu mereka muncul dua kepala lagi dengan leher dan paras yang
sama
Jemari mereka berselaput, kukunya hitam dan tajam
Kulitnya berlendir dan baunya busuk menusuk hidung
Dan mereka mulai memanjat naik ke perahu ini dengan tali yang diikatkan
tadi
Beberapa awak kapal telah digigitnya dan seketika berubah hampir menyerupai
mereka

Aku ragu : Kaliankah itu atau monsterkah?
Dan jemariku menggenggam erat sebilah pedang


15 April 2006

HARGA SEBUAH CINTA

 Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang wanita dengan wajah yang buruk rupa. Sedemikian buruknya sehingga para pemuda di desa itu menjauhinya. Di desa tersebut ada sebuah kebiasaan untuk memberi mas kawin dari pria yang hendak melamar gadis. Dan pasti, si buruk rupa tadi, menjadi tertawaan para pemuda.

Banyak tidaknya mas kawin yang diberikan tersebut tergantung dari kecantikan sang gadis. Jadi apabila gadis itu berwajah biasa-biasa saja, maka mas kawinnya berharga seekor kambing. Kalau lebih cantik lagi, jumlah kambingnya bertambah banyak. Dan yang terbanyak mas kawinnya sampai saat itu adalah mas kawin primadona di desa tersebut, sebanyak 10 ekor kambing.
Setiap orang berguman tentang ‘harga’ gadis jelek itu. Mereka berkata; “Ah, dia kan buruk rupa. Mana ada yang mau dengan dia. Jangankan seekor kambing, seekor ayam pun pasti tidak ada yang mau membayarnya.”
Dan yang lain berkata: “Jangankan seekor ayam, membayarnya dengan bangkai ayam mati pun pasti tidak ada yang mau.”
Dan mereka menertawakan nasib gadis malang yang buruk rupa itu. Gadis itu bolak-balik medengar gurauan mereka, dan hatinya menjadi sedih dan terluka. Harga dirinya rusak, dan dia sendiri hampir percaya, bahwa tidak ada seorangpun yang mau mengambil dia sebagai istri.
Sampai suatu saat, tersiar kabar bahwa gadis buruk rupa itu disunting oleh pemuda dari desa seberang. Dan penduduk desa pun bertanya-tanya, pemuda malang manakah yang gila meminang gadis buruk rupa itu?
Mereka berbondong-bondong datang ke rumah orang tua gadis buruk rupa tersebut dan bermaksud menanyakan tentang kebenaran hal tersebut. Dan alangkah kagetnya mereka, ketika sampai di sana, mereka menemukan mas kawin dari pemuda itu.
Mas kawinnya berupa sapi!
Tidak pernah ada seorang wanita cantik mana pun yang pernah diberi mas kawin semahal dan seberharga itu!
Bahkan gadis tercantik di desa itu hanya ‘seberharga’ 10 ekor kambing. Dan mereka lebih terkejut lagi ketika mendapatkan bahwa tidak hanya seekor sapi, tapi ada sepuluh ekor sapi di kandang di samping rumah gadis buruk rupa itu.
Sepuluh? Ya sepuluh ekor sapi!
Mereka tambah penasaran. Oleh sebab itu, penduduk berbondong-bondong berjalan ke desa seberang untuk melihat bagaimana nasib wanita buruk rupa itu.
Berjuta pertanyaan muncul saat itu. “Kok pemuda itu gila ya? Matanya buta kali, nggak lihat apa kalau dia jelek setengah mati?”
“Ah jangan-jangan cuma dijadikan pembantu rumah tangga, pasti diberi makanan yang sedikit lalu dijual lagi ke pedagang budak belian.”
Ketika sampai di rumah pemuda tersebut, mereka melihat bahwa rumah tersebut amatlah mewah. Dindingnya diukir dengan amat indah. Dan mereka semakin yakin bahwa dugaan mereka tentang wanita malang ini akan dijadikan pembantu rumah tangga dan budak adalah benar. Ketika mereka mengetuk pintu, seorang pemuda yang amat tampan menyambut mereka. Dia memperkenalkan diri sebagai pemilik rumah. Mereka bertanya apakah mereka bisa bertemu dengan gadis tersebut. Sang pemuda kembali masuk ke rumah, setelah mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
Seorang wanita muda yang cantik datang menyambut mereka. Rambutnya tertata rapi, tutur katanya halus, dengan ramah ia mempersilahkan mereka mengambil makanan dan minuman.
Penduduk bertanya, “Di manakah gerangan gadis yang berasal dari desa mereka?”
“Apakah baik-baik saja? Dimanakah ia sekarang?”
Wanita yang cantik tersebut menjawab, “Sayalah orangnya”.
Orang-orangpun melongo, melotot, dan tak mampu berkata-kata. Mereka bertanya? Apakah benar? Apakah mereka tak salah lihat? Gadis itu kan jelek sekali, sementara wanita di depan mereka itu amat anggun, amat cantik.
Wanita tersebut berkata, “Saya merasa cantik, ketika saya mengetahui bahwa suami saya menghargai saya dengan jumlah yang amat tinggi. Saya sadar bahwa dia berusaha berkata bahwa saya cantik, bukan seperti apa kata orang, tetapi karena dia mencintai saya sebesar itu. Sebagai balasannya, saya berusaha memberikan yang terbaik yang pernah saya bisa berikan, karena saya tahu, suami saya membeli saya dengan harga yang amat mahal. Saya berdandan dengan cantik, saya mengubah model rambut saya, dan berusaha menyenangkan hati suami saya. Dan inilah saya yang sekarang.”

14 April 2006

Siapa Sebenarnya Kau?

 Pernah ku sembunyikan cinta ini

Kusimpan dalam laci meja belajarku, lalu kukunci erat
Hingga suatu pagi kutemukan cinta itu sudah tak ada lagi dalam laci
Dan tak pernah kutemukan lagi hingga aku bertemu denganmu dalam ketidaksengajaan
Ku lihat cinta itu ada bersamamu
Dan tak pernah ia meninggalkanmu
Entah bagaimana kau mencuri cintaku dan membuatnya menjadi milikmu
Siapa sebenarnya kau?


Dari Masa Lalu

 Aku melihat diriku ada di masa lalu

Dan selalu seperti itu
Sementara aku merasa kau ada di masa depan
Yang aku yakini, kau sedang menantiku di sana
Menanti aku memasuki masa depanku untuk menemuimu
Yang aku tahu, aku pesimis akan masa depan itu
Aku yang tengah pesimis dapat menemukanmu

Entah kau tahu atau tidak
Setiap kali aku menatap ke depan sana, mataku berjelaga
Saat kemungkinan terindah tak mampu kukhayalkan
Dan kemungkinan terbesar di depan terlalu kutakutkan

Mungkin aku akan sangat berduka
Namun di sana akan ada lega
Saat ku dapat menatapmu meraih indah dunia
Meraihnya bukan bersamaku

Andai kau restui
Biarkan aku menikmati perihku sendiri
Tak usah kau turut menemani
Sungguh aku tak pernah tega menyaksikan kau turut berduka
Turut larut dalam kecewa menghadapi garis hidupku

Dan aku selalu berdoa
Kelak kau akan menjadi dewi surga
Bahagia dan membahagiakan
Dan aku hanya ada di masa lalumu
Menatap kau tersenyum
Masa depan terindah itu adalah layak untukmu
Dan takkan mungkin kau dapati jika terus bersamaku

Ya, garis hidupmu adalah bahagia tanpaku
Cukup enyahkan aku
Itulah cara termudah untuk dapatkan cerah
Jika benar kau seorang kasih yang pandai

Buatlah aku lega menyaksikan kau bahagia
Bahagia bercengkrama dengan masa depan terindah
Biarkan aku hanya tersenyum menatapmu dari sini
Dari masa lalu…

08 Februari 2006

Dari Masa Lalu

 Aku melihat diriku ada di masa lalu

Dan selalu seperti itu
Sementara aku merasa kau ada di masa depan
Yang aku yakini, kau sedang menantiku di sana
Menanti aku memasuki masa depanku untuk menemuimu
Yang aku tahu, aku pesimis akan masa depan itu
Aku yang tengah pesimis dapat menemukanmu

Entah kau tahu atau tidak
Setiap kali aku menatap ke depan sana, mataku berjelaga
Saat kemungkinan terindah tak mampu kukhayalkan
Dan kemungkinan terbesar di depan terlalu kutakutkan

Mungkin aku akan sangat berduka
Namun di sana akan ada lega
Saat ku dapat menatapmu meraih indah dunia
Meraihnya bukan bersamaku

Andai kau restui
Biarkan aku menikmati perihku sendiri
Tak usah kau turut menemani
Sungguh aku tak pernah tega menyaksikan kau turut berduka
Turut larut dalam kecewa menghadapi garis hidupku

Dan aku selalu berdoa
Kelak kau akan menjadi dewi surga
Bahagia dan membahagiakan
Dan aku hanya ada di masa lalumu
Menatap kau tersenyum
Masa depan terindah itu adalah layak untukmu
Dan takkan mungkin kau dapati jika terus bersamaku

Ya, garis hidupmu adalah bahagia tanpaku
Cukup enyahkan aku
Itulah cara termudah untuk dapatkan cerah
Jika benar kau seorang kasih yang pandai

Buatlah aku lega menyaksikan kau bahagia
Bahagia bercengkrama dengan masa depan terindah
Biarkan aku hanya tersenyum menatapmu dari sini
Dari masa lalu…

Kembali Nestapa Menjadi Milik Jiwa

 Sungguh, kuyakin ia mampu rasakan cinta ini

Dan seyakin itu, ia tak mampu rasakan perih ini
Mengharap cintaku, sementara kuberperang melawan nasib
Mungkin ia tak pernah tahu, atau sekedar berpura-pura tak tahu
Mungkinkah ia tak peduli?

Dan tepat di pintu antar dimensi, kini aku berdiri
Menatap setiap negosiasi hati
Lalu ada sesuatu yang memaksaku memilih satu

Membahagiakannya, itu cita-cita terbesarku saat ini
Sungguh enggan jika harus berbagi perih
Tapi bahagia yang mana dalam hidupku yang mampu kubagi?
Sementara aku tersesak dalam realita hidup yang nestapa sejak lama

Atau haruskah aku khabarkan derita ini padanya?

Bisa mencintainya adalah kebahagian
Tapi, cukupkah hanya itu untuknya?
Sementara cinta ini belum tentu sempurna

Atau haruskah aku berlari menjauh?

Atau haruskah aku terus berbohong menghadapi kenyataan?

Ah, kembali untuk sesaat aku menjadi membenci diri
Dan tak lama, aku tersadar pada arti dewasa
Begitu terus berulang

Dan aku tak pernah berani menerka seperti apa akhir dari ini semua…

Mungkinkah kelak aku akan menjadi dewa?
Atau seorang gila?

Uh!
Kembali nestapa menjadi milik jiwa

Dimatanya Tak Lagi Ada Cinta

 Dimatanya tak lagi ada cinta

Entah dengan hatinya
Yang aku tahu, kata-kata rindu tak lagi mampu meronakan wajahnya

Dimatanya tak lagi ada cinta
Entah dengan hatinya
Yang aku tahu, belaian tulus tak lagi mampu damaikan gelisahnya

Dimatanya tak lagi ada cinta
Entah dengan hatinya
Yang aku tahu, rayuan syahdu tak lagi mampu jinakkan liarnya

Dimatanya tak lagi ada cinta
Entah dengan hatinya
Hanya itu yang aku tahu…

Inilah Cintaku Untukmu, Shanna

 Ada cinta yang kubenci, ada benci yang kucinta

Ada sebuah kejujuran yang menyakitkan, ada kebohongan yang membahagiakan
Dan seorang wanita bernama Shanna telah terlanjur untuk kucinta
Namun kemarin malam ia berkata-kata, kata-kata yang membuatku kecewa

Shit! Luka yang diberikannya telah menghalangi pandanganku pada masa lalu
Masa lalu yang indah, ketika ia dan aku melupakan semua
Shit! Kejujuran itu terlalu menyakitkanku
Kenapa? Kenapa ia setega itu?
Lalu dengan geram kuhempaskan ia
Aku terpukul oleh kenyataan!
Dan kutahu ia pun tersisihkan?

Lalu tadi malam ku tertidur tanpa ia dalam mimpiku
Adakah ku telah sebegitu dalam membencinya?
Hingga dalam mimpi pun ia tetap ku hempas?

Shit! Shit! Shit!
Tadi pagi ku tak lagi dapat menikmati kopi panasku
Gelasnya pecah ku hancurkan
Dan aku lelah merapikan rak buku yang kurusakkan!
Dan aku sesak oleh asap rokok yang terlalu banyak kuhisap!

Dan kini ku terlagi sulit tertidur

Foto Shanna di satu sisi hatiku sejak semula tak pernah berpindah
Kuterpandangi padanya
Shit! Foto itu tak turut hancur bersama remuknya hati
Dan aku terus dipaksa untuk menatapnya
Ada apa ini?

Oh, God?
Aku masih mencintainya?!

Dan sebuah bisik cinta mengalir lembut ditelinga ini
Menceritakan tentang segala masa lalu
Dan mengingatkanku pada cintaku sendiri

?Aku sudah tidak perawan lagi??
Gema itu kini terasa lembut?
Aku menjadi begitu menghargainya
Dan aku tersadar jika aku sedang diselimuti cinta, bukan lagi oleh hawa

Shanna?! Shanna?!
Aku cinta kamu?


Alangkah Indah Jika Aku Memiliki Harapan

 Takdirku jauh darimu

Melawan segenap rintihan hati
Mencipta bongkahan besar kecewa di jiwa
Tapi, siapa yang peduli?

Setiap sudut kamarku terpenuhi oleh sarang laba-laba
Menjadi hiasan terindah saat ku tak mampu lagi bergerak

Sejumlah semut hitam yang tak kuhitung berbaris rapi melintasi dinding kamar
Entah pulang dari berperang, atau bermigrasi mencari hunian baru
Namun, mereka seakan menari hendak menghiburku
Maafkan aku, semut-semut kecilku…
Aku tengah tak mampu tersenyum

Terciptalah juang untuk hidup
Atau hidup untuk berjuang?
Ah, aku tak mengerti
Dan memang tak pernah peduli

Saat pagi datang, ada yang berharap segera malam
Saat pagi datang, ada yang berharap selamanya tetap begitu
Aku tak peduli pada segala harap
Yang kupikirkan, alangkah indah jika aku memiliki harapan…

Revolusi Hati

 Maafkan, aku meneleponmu sepagi ini

Aku berpikir dingin udara pagi akan lebih bisa menyejukkan kepalamu
Dan tentunya otakmu belum dijejali oleh segala kontaminasi dunia
Maafkan aku…
Ya, tentunya kata maaf ini aku katakan setelah kau dengan kasar memakiku
Ternyata dugaanku salah
Kau justru merasa semakin risih terganggu oleh dering telepon dariku

Setengah jujur, aku mulai tak mengerti keinginanmu, setengahnya lagi adalah kebodohanku

Segalanya terasa berubah
Dan kini aku tengah ada dalam jengah

Segalanya memang bisa berubah, bahkan tanpa pernah diduga
Tapi entah dengan hatimu hari ini
Yang aku rasakan, ya, hanya yang aku rasakan, adalah kau telah berubah
Berubah dengan cepat!
Adakah ini adalah sebuah revolusi dari isi sebuah hati?

Kau Mati Saat Aku Mencintaimu

 Kau mati saat aku mencintaimu

Mencintai dengan cinta yang sangat

Kau pergi begitu saja dan berlalu
Bersisakan janji lirih yang kau ucap
Takkan kembali sekali dan selamanya

Kau pergi terlalu cepat
Sebelum mampu ku perlihatkan semua janjiku
Sebelum mampu ku buktikan semua ucapku
Kau tak memberiku cukup waktu untuk itu

Dalam pedih yang tiada pernah kurasa sebelumnya
Dalam sesak yang menghela langkah
Ku arungi hari tanpa tawa seorang Dhillah

Buta rasanya tanpa kau membimbing
Gelap rasanya tanpa kau menerangi
Sunyi rasanya tanpa kau menemani
Dan aku sendiri dengan cinta yang angkuh
Tak ingin berpaling dari cinta selainmu…

Aku yang tengah teramat mencintaimu
Kau tinggalkan mati…

Puisi Untuk Gadis Hantuku

 Ajaib…

Langka…
Berbeda…
Istimewa…
Dan sempurna…

5 kata itu selalu menjadi kunci saat kuingatmu
Hingga setiap waktu yang berlalu hanya terisi rindu
Dan setiap asa hanya ingin bersua

Gadis hantuku…
Kupastikan saat kesaktianku kembali, aku akan menjemputmu
Menerobos setiap pintu langit
Setiap gemuruh itu adalah lirihku panggil namamu
Setiap kilatan guntur adalah percepatan langkah kakiku

Takkan kubiarkan ada tangan yang kuasa memisahkan
Kulawan takdirku demi menggapai kembali malam yang pernah kulalui
Malam saat kau hadir mengejutkan aku dengan gaun putihmu
Kuhentikan waktu, hingga pagi takkan datang
Pagi dimana aku hanya bisa termangu, dan menyesali pergimu

Gadis hantuku…
Betapa kurindu pada senyum berhias taring indahmu
Rambut panjang tergerai suci, hingga angin sekalipun tak mampu menyentuhnya…
Wajah pucat itu penuh dengan cinta!

Tunggu aku, takkan lama…
Atau sudikah kiranya kau kembali turun ke dunia?
Temui aku yang semakin tua
Dengan rindu-rindu yang tertunda…