16 September 2005

Minggu pagi yang penuh jengah…

 Sudah kuduga, menjalin cinta hanya akan menyesakkan

Sesak oleh segala ketertakutan akan kehilangan dirimu
Sesak oleh segala kerinduan sekedar ingin mendengar suaramu

Tak peduli pulsa ponselku yang kian menipis
Ku terus saja mengirimkan SMS padamu
Ucapkan selamat pagi, semoga hari ini indah, jangan lupa makan, mimpi indah, dan segala…

Tak peduli tagihan rekening teleponku membengkak
Terus saja ku tak jenuh mendengar segala ucapmu
Kisahmu hari ini, canda tawa, masalah sekolah, mimpi burukmu tadi malam, dan segala…

Dan hal yang selalu ini kutakutkan datang juga
Mimpi buruk yang menjadi nyata
Tak ada lagi rona muka memerah saat kuucapkan rindu
Tak ada lagi getaran manja saat kucoba merayu
Adakah kebosanan tengah menghinggapimu?

Ah, kasih…
Dulu kau begitu bertanya-tanya saat sehari saja ku tak meneleponmu
Dulu kau tak mampu tertidur pulas saat tak ada belaian ucapan selamat tidur SMS-ku
Tapi kini segalanya berubah…
Adakah kau tak lagi cinta?

Dulu, ya, dulu, setiap ku meneleponmu, dan kubertanya apa yang sedang kau lakukan, kau selalu
menjawab: “Aku sedang merindukanmu…”
Tapi kini…
“Aduh, aku sedang mengerjakan PR…”
“Maaf ya, aku sedang makan malam bersama keluarga…”
“Seharian tadi aku lelah, sekarang aku baru saja mau mencoba tidur…”
Dan segala yang begitu membuatku kecewa

Selama ini aku selalu berusaha untuk mengerti, memahamimu…
Selama ini aku senantiasa bertahan berprasangka baik padamu…
Tapi harus ku akui, aku mulai lelah, jengah…

Ah, tapi tetap saja aku cinta…
Tetap saja aku takut kehilangan dirimu…

Bersama segala bayangan indah yang kian memudar, aku menjalani hari
Hari-hari yang sesak merindukanmu, merindukan segala manjamu dulu…
Adakah suatu saat nanti kau ‘kan berucap kata pisah?
Entahlah, aku sendiri sedang tak seyakin dulu
Dan yang kulakukan kini hanyalah bertahan dan terus bertahan
Menanti segalanya menjadi pasti…

Fakir

 Aku kehilangan segala khayalan tentang masa depan

Dan benar-benar telah menjadi pecundang sejati yang takut untuk sekedar bermimpi

Di mana kalian, wahai keluarga?
Di mana kalian, wahai saudara?
Di mana kalian, wahai sahabat?
Di mana kalian, wahai kekasih?

Aku sendiri
Adakah aku yang telah pergi meninggalkan semua?

Siksaan terbesar dalam hidup tengah kurasakan
Saat ku tak lagi memiliki harapan

Kemana diriku yang dulu begitu optimis menjalani hidup?
Kemana semua keyakinanku yang dulu begitu tangguh?
Kemana semua keberanian diri?

Aku yang dulu begitu sombong melawan waktu, kini hanya duduk tersimpuh kaku dan lumpuh
Hari-hariku kini penuh penat, sesak…
Segala mimpi buruk itu kini telah menjadi nyata
Bahkan lebih mengerikan dari yang pernah kubayangkan

Duniaku begitu kasar
Mungkin hendak menuntunku menjadi dewasa
Tapi yang terjadi justru aku menjadi bayi raksasa
Kenormalan jiwa yang tersisa hanyalah mencoba bertahan untuk tetap hidup
Dan membiarkan berakhir sesuai takdir

Adalah aku kini seorang fakir

Aku Tak Yakin Apakah Ini Cinta

 Malam tadi terbesit firasat buruk di diriku

Terbayang segala mimpi buruk bercerita tentang satu masa
Saat kau tak lagi di sini, di sisi…

Kasih, aku tak yakin apakah ini cinta
Mungkin kau akan bertemu pria yang lebih menyenangkan
Mungkin kau akan bertemu pria yang bisa membuatmu merasa lebih nyaman
Mungkin kau akan bertemu pria yang lebih baik
Namun ketahuilah, saat mereka pergi meninggalkanmu, aku akan tetap berada di sini…

Kasih, aku tak yakin apakah ini cinta
Bahagiamu adalah bahagiaku
Jika kelak aku tak lagi mampu bahagiakanmu, tak perlu kau sungkan untuk sisihkan aku
Saat aku tak lagi mampu buatmu tersenyum, enyahkan saja aku
Saat itu aku tak lagi layak bersamamu…

Kasih, aku tak yakin apakah ini cinta
Tak perlu kau takut untuk meminta pisah
Saat kau merasa ada cinta lain yang lebih bermakna
Saat kau merasa rindumu selain padaku lebih menggebu

Kasih, aku tak yakin apakah ini cinta
Namun kupastikan kebahagiaan itu mutlak milikmu
Tak usah kau ragu untuk tinggalkan aku…

Pastikan awal yang indah harus berakhir pula dengan indah

18 Agustus 2005

Perang

 Duniaku sedang perang…

Gelegar dari bencana yang sebenarnya
Perang senjata
Perang kata-kata
Perang teknologi
Perang ideologi
Perang pemikiran
Perang informasi
Perang, perang, dan perang!

Berkilah tentang kebenaran
Namun yang ada hanyalah mencari pembenaran

Saat darwinisme sosial begitu kukuh direngkuh
Dan hedosnisme menjadi penyakit global
Maka sungguh kehancuran itu telah ada di depan mata

“Hahaha…”
Ada yang tertawa…

Oh, rupanya masih ada yang bisa tertawa
Di saat manusia-manusia tak berdosa harus menjadi korban kecongkakan global
Di saat bayi-bayi terlahir di tengah angkuh manusia terhadap dunia
Di saat tentara hanya dilatih sebagai mesin pembunuh

Lantas, apa yang ia tertawakan?
Siapa ia?
Entahlah siapa ia…
Namun yang pasti, ia menertawakan segala kebodohan berlabelkan kepandaian

Tak ada lagi demokrasi

Ah, sejak awal demokrasi memang didesain seperti itu

Setan-setan telah berwujud dalam nyata…

Hak Asasi Manusia menjadi Tuhan
Dan hukum hanya milik sebagian orang

Batu-batu begitu mudah dilemparkan
Peluru-peluru begitu mudah ditembakkan
Bom-bom begitu mudah diledakkan
Rudal-rudal begitu mudah diterbangkan

Tak peduli apa dan siapa

Terdengar berita gempar
Saat seorang eropa menjadi hancur oleh bom di dalam kereta
Saat seorang amerika tertimpa reruntuhan dari ledakan gedung tinggi
Saat seorang arab mati dihujani timah panas
Saat seorang afrika menjadi ras tersisih
Saat seorang asia kehilangan budayanya
Saat seorang australia tak lagi hidup tenang karena virus-virus ciptaan
Saat seorang tentara menangis namun tetap tak mampu berhenti menembak
Saat seorang anak kecil menulis surat kepada dunia tentang kenyataan yang sesungguhnya
Saat seorang tua tak mampu menikmati akhir-akhir masa hidupnya

Ada negara miskin yang dengan tanpa malu mengaku kaya
Ada negara kaya yang sejak lama tetap miskin
Ada negara yang 75% APBN-nya ditujukan untuk membuat senjata
Ada negara yang 95% keringat rakyatnya menjadi benar-benar tak berharga
Ada negara yang dipenuhi orang-orang pandai namun melegalkan kebodohan
Ada negara yang dipenuhi orang-orang bodoh sehingga menuhankan kepandaian

Propaganda-propaganda sosial global ditujukan hanya untuk membangkitkan kebencian
Juga kebodohan, ketidakpedulian, dan keangkuhan…

Kemarin terdengar berita, ribuan pendemo menentang aksi pembunuhan terhadap binatang secara kejam
Lalu sang pemerintah dengan penuh penghargaan menanggapi aksi itu
Dan di saat yang sama, di tempat yang sama, tak ada satupun yang peduli pada nasib jutaan manusia yang diperlakukan jauh lebih hina dari binatang
Kebodohan macam apa ini???!!!
Tak ada yang salah dengan aksi peduli pada mahluk hidup
Namun menjadi bencana jika yang lebih utama tak lagi dihargai

Ah, aku hanya dapat duduk jengah menatap ini semua
Mungkin aku pun menjadi satu masalah bagi dunia
Aku yang hanya terdiam lemah
Hanya mampu berteriak, mengumbar resah dan kecewa, dan tak ada yang mendengar
Adakah aku, kau, dia, mereka, dan semua salah?

Ada cinta yang tak kucinta…

 Entah harus kumulai dari mana untuk mengakui kejujuran diri

Bersamanya, hari selalu indah
Bersamanya, langit terasa selalu cerah
Ia terlalu tulus dalam segala
Hingga kini masih sulit kutemui titik salah di dirinya

Mengenal dirinya, dan tak peduli lagi pada waktu
Menatap wajahnya, dan tak ingat lagi pada segala trauma
Membelai rambutnya, dan aku semakin tak mampu menghempasnya

Hanya padanya aku tak berani menyakiti
Hanya padanya aku tak bernyali ingkar janji
Hanya padanya aku selalu berusaha menjadi pria yang mengerti

Rasa sayang itu terlalu dalam
Hingga kutak tahu seperti apa isi di dasar sana
Aku begitu menyayanginya
Ia hadir bagai anugerah atas segala fantasi sempurna
Tapi, itu… Itu bukan cinta!

Tuhan…
Bukankah hal sulit bagimu untuk menghujamkan rasa cinta di hati ini?
Aku begitu ingin mencintainya
Segala yang kulakukan adalah tulus, aku begitu menyayanginya
Dan aku tahu, itu bukan cinta…

Betapa aku selalu resah membayangkan kemungkinan terburuk
Saat ia tahu aku tidak mencintainya…
Betapa aku selalu khawatir memikirkan segala kekecewaannya kelak

Aku terlalu menyayanginya
Hingga ku tak pernah rela melihat ia terluka
Rasanya, apapun akan ku lakukan untuk bahagiakannya
Termasuk mencari cinta untuknya
Namun hingga kini rasa itu belum juga kutemui
Sementara aku terus bersama resah
Khawatir ia mengetahui segala

Cinta… Cinta…
Di mana engkau???
Tidakkah kau lihat ia begitu tulus padaku akan segala
Cinta, kasih sayang, kesetiaan, dan segala pengorbanan
Apalagi yang dapat kutapikkan untuk tidak mencintainya?
Tapi, mengapa cinta tak jua mau datang di hatiku untuknya?

Aku benar-benar berada dalam satu titik yang tak pernah kubayangkan sebelumnya
Menyadari, menghayati, mengagumi, dan menghargai segala tulusnya
Gadis bijak dari alam khayalku selama ini telah menjadi nyata
Membawakan aku cinta dan segala bahagia
Namun ternyata aku tak mencintainya…

Bagaimana aku harus bercerita padanya tentang semua ini?
Dari mana harus ku mulai kejujuran diri ini?
Aku terlalu takut menatap kecewa di matanya kelak…

Betapa bodohnya aku…
Kemana segala rasa cinta itu saat orang yang tepat telah hadir di hadapku?

Puisi untuk kekasih baruku…

 Bogor, 17 Agustus 2005, 00:47

Sesaat setelah kumampu berucap kata-kata itu
Sesaat setelah kau dengan tulus menjawab semua harap
Sesaat setelah sebuah komitmen berhasil kita sepakati
Ada rasa bersalah dalam diri
Diri seorang manusia berwujud aku

Ketertakutan yang bukan tanpa alasan
Keragu-raguan yang selama ini senantiasa kau coba tampikan
Dan segala kegamangan di hati mencuat

Di malam ini, seharusnya aku dapat tidur nyenyak
Di malam ini, seharusnya aku dapat bermimpi indah
Tertidur dengan bayangmu di pelupuk mataku
Bermimpikan indah lincah dirimu

Namun sebaliknya…
Aku merasakan ketakutan…
Khawatir tak mampu penuhi semua harapmu
Bahagiakanmu…

Ah, walau kau senantiasa berkata menerimaku apa adanya
Meski kau dengan tulus bersamaku akan hadapi semua derita
Tapi tetap saja aku tak rela membagi duka kepadamu
Takkan sampai hati aku melihatmu murung kelak…

Kasih, tinggalkan saja aku jika kelak kau merasakan kecewa itu
Kasih, sungguh kurela menikmati sesak jika dengan itu kau mampu bahagia
Pastikan segalanya tetap indah di dirimu
Jangan biarkan aku menjadi racun dalam mimpi bahagiamu
Karena dengan begitu, aku bisa merasakan bahagia telah mencintaimu
Dan saat itu aku mampu meyakini diri telah menyayangimu sepenuhnya…

Puisi Untuk Kekasihku

 Teringat pada semua yang telah dilalui bersama

Terkenang segala yang telah kau berikan padaku
Meyakini tentang sematan diri ini di hati
Setia dan tangguh menghadapi sisi buruk diriku
Kau kini menjadi bagian indah hidupku

Segala curahan tulus tanpa ungkitan menjadi kisahmu untukku

Memberikan nafas baru saat aku ketandusan ilham
Dalam cerita panjang di waktu aku terbelengu menghela napas meruak ikatan

Kau hadir berikan ruang
Mengamit kasih sayang, merawat kelesuan, menyemangati hidup

Hariku indah karena indahmu

Segala beda begitu mudah kau modifikasi
Mejadi tali pengikat yang jauh lebih erat
Dan segala kedewasaan didirimu begitu apik kau gunakan untuk menuntunku
Mencerahkan setiap gelap hari yang kulalui

Saat mendung menggantung, kau pernah membuat matahari menari di dahan hijau
Dan kau benar-benar menunjukkan warna
Bahagiakan aku

Maafkan jika aku pernah menyalahartikan tulusmu
Tuntunan kasihmu pernah kuanggap penghambat inginku
Curahan tulusmu pernah kutanggapi dengan semu
Dan segala pengorbanan yang pernah tak kuhargai

Dan benar katamu, biarkan waktu terus berjalan
Seiring segala buktimu yang semakin sulit kutapikkan
Menjawab segala tanya tentang peranku

Terimakasih untuk segala perjuanganmu
Terimakasih untuk segala iringan kasihmu
Terimakasih atas segala semangat ciptaanmu

Dan kini aku tengah berada di satu titik hidup
Bukan puncak, tapi aku rasa cukup tinggi
Bukan cita-cita, tapi satu jalan terang menuju asa
Yang kuraih bersama segala perjuangan, iringan kasih, dan semangat ciptaanmu

Puisi Untuk Keluargaku

 Menopang seluruh yang ada di hati, tubuh, dan luangan kasih sayang kalian

Hingga begitu indah setiap detik dalam hangat cengkrama

Bunda, Ayah, dengan malu kukatakan : 

“Akulah anakmu

Adik-adikku, dengan malu kukatakan : “Akulah kakakmu.

Pada kalian aku mengeluh, dan selalu

Bunda
Sejujurnya telah kucoba kumpulkan keindahan dunia untuk ganti hadirmu
Sejujurnya telah kupilah yang terbaik untuk mengisi kerinduanku
Tapi bunda, yang kutemui hanya lelah
Lalu saat itu aku kembali padamu, memohon pelukan
Dan kau senantiasa menjadi pendengar yang arif

Mendengarkan dengan mata, mendengarkan dengan hati
Kau mendengar apa yang tak bisa terucap dengan kata-kata

Bunda
Dunia takkan mampu menggantikanmu
Pilahan yang terbaik takkan lagi coba kuisi dalam rinduku
Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam gendonganmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuanmu
Hingga derita kau rasa indah demi anandamu

Lalu… Kenapa hanya rindu yang ananda punya untuk ibunda?

Tidak bunda…
Rindu ini hadir dalam Doa anandamu
Agar surga selalu hadir untukmu
Bukan hanya ditelapak kakimu

Ayah
Rentetan waktu yang kau urai dalam peluh
Dalam entah berapa banyak tetes keringatmu yang kini menjadi darahku
Selama itu kau tetap tersenyum

Jinjingan pelangi tak pernah luput kau bawa sepulang kerja
Lalu dengan sabar, menguraikan warnanya untukku satu persatu dengan mata berbinar
Dengan baju kemejamu yang telah lusuh

Lalu, kuteringat saat kumerengek meminta baju baru
Sementara kau sibuk berhutang demi memenuhi keinginanku
Ah, aku memang anak yang manja

Ucapan terimakasih dan doa rasanya tak pernah cukup untuk membalasmu
Sementara, tak jarang aku menjadi jauh dari harapan-harapanmu
Aku malu

Ayah
Sebagian semangatku ada dalam doamu
Dan pijakan hidupku dalam petuah sederhanamu
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

Ayah
Ananda bangga menjadi anakmu

Bunda, Ayah,
Mungkinkah kumampu menjadi anak yang dapat kalian banggakan
Mungkinkah kumampu penuhi semua harapan
Mungkinkah kumampu menjadi penyejuk pandangan

Maafkan aku
Maafkan jikalau budi kalian selama ini aku balas dengan hinaan
Maafkan jikalau sapaan lembut aku balas dengan hardikan
Maafkan jikalau mata ini sering menatap sinis pada kalian
Maafkan jikalau banyak permintaan tolong yang tak kudengar
Maafkan jikalau aku justru membuat kalian malu
Maafkan atas segala
Maafkan

Ayah, Bunda, maafkan aku

Sungguh aku ingin menjadi anak yang dapat kalian banggakan
Sungguh aku ingin penuhi semua harapan
Sungguh aku ingin menjadi penyejuk pandangan

Ayah, Bunda, kembali kumemohon doamu

Adik-adikku
Malaikat kecilku
Ah, kini kalian telah tumbuh besar
Tentu telah memahami lebih banyak tentang hidup
Kalian kini telah tumbuh menjadi anak yang cerdas
Ya, kalian kini tak lagi mudah untuk kubohongi seperti dulu

Adik-adikku, selain Bunda dan Ayah kita, kalianlah yang paling tahu siapa aku
Kalian tahu setiap cela diri kakak
Selain Bunda dan Ayah, kalianlah yang paling sering menjadi korban amarahku
Kalian yang selalu menjadi pelampiasan emosi dan egoisku

Padahal kakak tahu, kalian begitu tulus menyayangi kakak
Entah telah berapa banyak doa kalian yang menjadi jalan kemudahan bagi hidup kakak

Maafkan kakak, adik-adikku
Selama ini kakak belum mampu menjadi suri tauladan bagi kalian
Kakak belum bisa menjadi kakak yang baik, yang membahagiakan kalian
Lebih banyak menyulitkan dan menyudutkan kalian
Jari-jari ini telah banyak membuat pipi kalian merah

Selain Bunda dan Ayah, kalianlah orang paling pemaaf yang pernah kakak kenal
Pertengkaran yang acap kali terjadi karena ketidakdewasaanku, begitu mudah kalian lupakan

Seringkali ucapan lugu kalian menjadi nasehat jiwa
Seringkali tingkah polos kalian menjadi hikmah hidup
Kalianlah motivator, penyemangat hidupku

Ketika menatap kalian tidur bagai bayi, terbesik di benakku, alangkah inginnya aku membahagiakan kalian
Alangkah inginnya aku menjadi kakak yang bisa kalian banggakan

Adik-adikku, kakak sayang kalian

Keluargaku
Kalian adalah surga dalam hidupku
Karunia termegah Sang Pencipta untukku
Pastikan kita selalu bersama, selamanya

02 Agustus 2005

Kembali, siapa yang peduli?

 Berlarilah ia dari hidupnya yang mati

Mencoba mencari warna dalam mimpi
Terpejam terpaksa dari sesuatu yang dibeli
Dan merasa bahagia tanpa senyum

Sepagi buta ia memukul kepala
Berharap terpingsan dan tertidur lega
Dan lupa pada segala luka
Luka-luka dunia di dirinya

Asap rokok lagi-lagi memenuhi aliran rongga udara tubuhnya
Menunggu rubuh dan tak mengeluh

Manusia berwujudnya hatinya nestapa
Hidup dan nyatanya tak berirama
Goresan kata tanpa rencana
Mengalir dan tersesat
Tanpa tema dan makna
Lelaki berjuang menikmati adanya

Tak ada aturan yang sanggup menjelaskannya
Termenungnya di tengah pagi
Embun-embun di dahinya menguap begitu saja

Dan siapa yang peduli?
Peduli pada rangkaian kata yang sulit dimengerti

Lusuh, peluh, dan rubuh

Tak lagi dan pernah jernih di satu sisi
Sisi tanpa isi
Melayang tanpa tertempa
Lalu menjauh, hilang
Kembali dalam sesaat, dan terus berulang

Kembali, siapa yang peduli?


03 Mei 2005

Kuingat Padamu

 Kuingat padamu bila fajar

memerahkan langi sebelah timur

Kuingat padamu bila senja
mencium bunga yang akan tidur

Kuingat padamu bila malam
sepi berbunga bintang bercahaya

Kuingat padamu bila kumenatap bulan
teduh benderang purnama raya

Kuingat padamu yang berwajah tampan
dan dirikupun ingin berjumpa sayang

Menjadi Dewasa Itu Menyakitkan

 Menjalani hidup ternyata tak semudah yang kupikirkan saat kecil dulu

Ceria yang selalu dari sesosok aku 10 tahun lalu pudar sudah
Dan menghilang entah kemana
Berubah menjadi galau, pesimis dan kusut…

Dulu, tangisku adalah juga bahagiaku
24 jam kulalui tanpa duka, dan terasa lama
Kini waktu seperti hembusan angin
Berlalu, dan yang kurasa hanya lelah
Tidurku tak lagi nyenyak
Mimpi-mimpi penuh dengan aneka kontaminasi

Saat aku meulai mencoba merengek pada ibuku yang semakin tua
Beliau hanya tersenyum seraya berkata, “Itulah Dewasa”

Ah, aku rindu pada saat dimana ku tak peduli pada berapa banyak uang di sakuku
Aku rindu pada saat dimana ku berkhayal tanpa harus menatap jam dinding
Aku rindu pada saat dimana aku tak takut untuk berbagi cinta dengan tulus
Akupun rindu pada saat dimana aku hanya dapat berhitung sampai sepuluh

Kini cita-citaku tak lagi banyak dan tinggi
Tidurku hanya untuk melepas lelah
Senyumku hanya untuk melepas penat
Hari-hari menjadi semakin padat oleh aneka pikiran yang kian sempit
Aku yang sekarang menyesal dengan keadaan
Aku merasa menjadi seorang penyemburu, melancholish, egois, pamrih…

Dulu aku menangis saat ayah memarahiku, kini aku menangis oleh amarahku sendiri
Dan aku mulai berpikir, menjadi dewasa itu menyakitkan…

Pelacur Kaki Lima

 Hai… Kau ada dimana?

Dengan berjalan kaki sejak tadi kutelusuri trotoar
Namun kau tak muncul

Aku butuh kau malam ini!

Dan seperti malam-malam yang terlalu
Cukuplah kau sebagai pemuas nafsu

Hai, kau ada dimana?
Tahukan kau, aku rindu desah godamu?
Aku merindukan senyum dan kerling nakalmu
Leok anggun pinggul dan lututmu…
Dan semua yang dapat kubeli dengan hanya beberapa lembar ribuan

Datanglah padaku, aku mohon…
Maka kupastikan, seluruh uang di dompetku akan berpindah ke sakumu
– Uang yang hanya cukup untuk satu kali makan
Biar kupulang merakak, asal kau lemaskan lututku…

Jalang!
Kau ada dimana?!
Pelacur lain terlalu mahal untukku bayar

Shit! Shit! Shit!
Rok mini murahanmupun tak tampak!
Atau kau tengah sibuk berjuang bertahan hidup?

Untuk Gadis Berjubah Jingga

 Maafkan aku, wahai gadis berjubah jingga

Aku tahu kau begitu tulus dalam cinta
Kau unik dan berbeda
Terimakasih kau mau memberiku cinta,
Tapi maafkan jika aku terpaksa harus menolaknya
Kau harus tahu, aku tak mampu membalas pemberian tulusmu
Tapi, bukan aku tak memiliki cinta yang kau minta
Hanya saja, ada hal lain yang membuatku terpaksa menahan cinta itu
Aku tahu kau terluka
Dan tadi malam kau menangis
Tapi, aku semalampun aku menangis
Seorang pria menangis?!
Itulah aku
Aku kehilangan cintaku
Padahal aku ingat benar, beberapa tahun lalu aku menyimpannya tepat dilaci meja itu
Aku kunci erat!
Ah, memang salahku yang tak pernah menyentuhnya lagi setelah itu
Tapi, siapa yang mengambil cinta dari laciku?
Atau siapa yang telah memindahkannya?
Dimana ia sekarang?
Dan sejak kapan cinta meninggalkan laci itu?
Seingatku, tak pernah lagi kulihat cinta itu ada bersama orang lain setelah ku kurung ia
Tak pernah ku llihat ia berada di belahan jiwa manapun
Lantas siapa yang telah mencurinya?
Dan kapan aku bisa kembali menemukan cinta itu?
Wahai gadis berjubah ungu, kini kau tahu
Aku terlalu pelik dengan nasibku
Dan rasanya tak pernah tega aku berbagi perih denganmu
Mungkin kau akan rela, tapi aku tidak!
Mana mungkin ku biarkan kita hidup bersama tanpa cinta
Aku harus mencari cinta itu dulu!
Beri aku waktu, dan berjalanlah bersamaku mencari cinta itu
Kelak jika aku menemukannya ada bersamamu, kupastikan cinta itu akan kuberikan untukmu

Ada apa?

 Semuanyakan telah aku percayakan padamu

Tentang cinta, kasih sayang, dan pengorbanan
Terserah kau pula mau buat apa padaku
Menyuruhku tersenyumkah, atau menangis tersedu, lalu tertawa
Menyuruhku berdirikah, duduk lalu berlari
Aku tak pernah peduli yang akan dilalui
Selama itu adalah perintahmu
Tapi pagi tadi kau diam saja?
Ada apa?
Sudah enggankah kau memberi titah?
Kalau benar begitu, ada apa?
Dan seperti biasa, aku tak berani bertanya
Aku turut terdiam disudut menunggu kau bicara
Dan kau tetap tak bicara jua
Dan kan tetap berdiri sampai nanti
Sampai harap tiada lagi
Tapi, bicaralah
Atau sekedar melentikan jari menyuruhku melakukan sesuatu
Atau kerutkan dahi dan siniskan mata dan senyummu, lalu usir aku
Aku akan pergi, dan untuk waktu yang lama takkan kembali
Atau kau suruh aku untuk diam, maka aku akan diam tanpa bertanya
Dan itu untuk waktu yang lama, sampai terdengar lagi titah yang lain
Atau sekedar gerakan dari lentik jari
Tapi, kau tidak melakukan itu juga
Tak bicara, melentikan jari, dan dahimu tetap biasa, wajah tetap biasa, mata tetap biasa
Sungguh, walaupun aku benci, tapi saat ini yang salah satu hal yang paling kunanti adalah kecutmu
Sungguh, walaupun aku benci, tapi saat ini yang salah satu hal yang paling kunanti adalah sinismu, bahkan usiranmu untukku untuk waktu yang harus lama
Aku tak pernah ingin kau menjauh dari jiwaku dengan sendirinya
Aku yang akan menjauh darimu
Untuk kemudian nanti mendekat kembali
Disaat kau tak lagi mengingatku
Atau disaat kau teramat sangat merindukanku dan menyesali semuanya
Namun, itu semua khayalan
Kau tetap diam
Ada apa?
Dan tetap saja aku tak berani bertanya
Dan tetap kunanti titahmu itu di sudut ini

Bukan Rayuan

Nona, bolehkah aku menjemputmu sore ini?

Menjemputmu kembali setelah ku meninggalkanmu semalam?
Atau kau telah membayar mahal orang lain untuk melakukannya?
Ah, Nona.
Semalam hanya setitik hitam dari hamparan luas jalan yang kita lalui
Jalan yang tak harus selalu mulus teraspal
Terkadang harus ada lubang-lubang, atau kumbangan air comberan
Nona, maukah nanti sore kau kembali ku jemput?
Lalu kita pulang berjalan kaki?
Lalui jalan aspal kota ini
Dan kaki kitapun lalu pegal. Ah, itu kan sudah biasa, bukan?
Mari buat iri sepasang kekasih dalam mobil mewah itu
Dan biarkan keringat menjadi saksi cinta kita, bukan tetesan bensin yang terbakar
Dan seperti biasa, tepat disebuah restoran mewah itu ada kedai bakso sederhana
Satu mangkuk cukupkan?
Karena kau makan tidak pernah banyak
Satu mangkuk untuk berdua, agar esok masih bisa kita beli bakso ini lagi
Dan tetap makan bakso itu disini, sampai kita temukan lagi tempat lain yang lebih murah
Lalu, sesampai didepan teras rumahmu, seperti biasa kau akan tersipu menyuruhku duduk
Dan aku tetap berdiri, lalu mengedipkan mata dan pergi
Malamnya kita sama-sama bermimpi semua yang kita lalui dijalan tadi
Dan esok pagi ku kan datang menjemputmu, mengantarkan kau sekolah
Biarkan guru marah karena kau sedikit terlambat datang
Yang penting kita bisa berbicara banyak hal dijalan
Lagipula, kau akan berada disekolah ini sampai lama, sampai sore, dan aku menjemputmu
Dan aku pulang ke rumah dengan hati senang meninggalkanmu dalam keadaan senang
Lalu, bolehkah aku kembali menjemputmu sore ini?
Menjemputmu kembali setelah ku meninggalkanmu semalam?
Atau kau telah membayar mahal orang lain untuk melakukannya?
Ah, Nona.
Semalam hanya setitik hitam dari hamparan luas jalan yang kita lalui
Dan akan masih banyak kerikil didepan